Lelah menggantung rendah
Ditemani temaram lampu jalan di ujung malam
Jengah, marah, hingga pasrah
Memercik, berdebam, berdentam-dentam
Hampa rasa melayang pergi
Buai jiwa di bayang pagi
Tuhan, ijinkan aku tidur
Setelah usai bertafakur
Perjalanan ini melukiskan banyak kenangan
Lelah menggantung rendah
Ditemani temaram lampu jalan di ujung malam
Jengah, marah, hingga pasrah
Memercik, berdebam, berdentam-dentam
Hampa rasa melayang pergi
Buai jiwa di bayang pagi
Tuhan, ijinkan aku tidur
Setelah usai bertafakur
Diposting oleh Dendy Triadi di 01.04 0 komentar
Diposting oleh Dendy Triadi di 15.17 0 komentar
Hari ini, seperti kebiasaan 2 bulan belakangan ini, kami berangkat bareng ke kantor. Dia mengantarku terlebih dahulu, untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju kantornya di daerah Jakarta Pusat. Ga ada yang cukup istimewa pagi itu, kecuali aku yang harus membuat sarapan cepat2 karena dia berangkat lebih awal. Padahal tadi malam, dia pulang larut, dan mungkin malam ini giliranku yang pulang malam. Gapapa ya Dear, demi balkon kita nanti. hihihih...(padahal aku yang suka protes kl dia pulang malem).
Akhir2 ini kami berdua sedang dihadang oleh kerjaan yang menumpuk banyak, dan tak jarang ini menimbulkan ketidakcocokan pemikiran diantara kami. Tapi aku bersyukur karena kami hampir selalu bisa untuk membicarakan dengan tenang dan kembali saling membarikan senyum di pagi harinya.
Memakai mobil pinjeman dari bapaknya, yang kebetulan sedang tugas di luar kota, n karena motornya juga lagi bocor ban, kami berdua melewati jalan yang sama sambil mengobrol tentang kerjaan n sesekali bercanda. Dia bercerita bahwa dia sedang disibukkan oleh pitching pertamina yang katanya berbugdet lumayan besar. Kemudian aku bertanya padanya,
" Dear, apakah kamu akan sombong kl kamu jadi kaya?"
dia jawab,
" Ngga, kan ada kamu yang selalu ingetin aku, Ingatkan aku ya kl aku mulai sombong"
Aku pun terkekeh, senang sekaligus lucu mendengarnya. Senang karena dia meminta padaku untuk selalu mengingatkannya. Lucu karena aku berpikir apakah aku bisa untuk tidak sombong jika suatu saat nanti kami berdua bisa meraih apa yang kami inginkan. Dan dia sepertinya memahami ketawaku, hingga kemudian dia bilang,
"yang pentingkan kaya hati. Iya kan?"
Aku hanya tersenyum sambil melihatnya sekilas. Ya, aku membenarkannya.
Maka, begitu sampai di depan mejaku, aku menyalakan komputerku dan menulis blog ini. Berharap tulisan dipagi ini bisa jadi cerminan untuk kami berdua,n siapapun yang membacanya, di suatu hari nanti.
Kawan, ingatkan kami jika kami mulai sombong
Dear, ingatkan aku jika aku mulai sombong
Aku pun berharap semoga aku bisa sadar untuk mengingatkanmu jika kau mulai sombong.
Kaya hati ya...:)
Diposting oleh Dendy Triadi di 08.14 0 komentar
Yup, 17 Februari yang lalu aku dan dia menggenapi satu tahun perjalanan kebersamaan, semenjak kami menyatakan untuk saling sayang. Banyak sudah yang kami berdua dapat selama satu tahun terakhir ini. Ditemani oleh berlembar-lembar tiket nonton di bioskop, karcis busway, berjejer kaset2 dvd, sampai bersiung-siung bawang merah yang aku iris hampir tiap pagi (ini membuatku menangis dan tersenyum, sama seperti rangkaian cerita di hidup kami).
Banyak kebahagiaan yang aku rasakan selama ini. Tapi tak jarang pula cobaan dan ujian menghampiri, yang kadang membuatku marah, sedih, kecewa, dan bertanya-tanya apa maunya Tuhan. Harus sabar dan berharap kami berdua bisa ngelewatinnya dengan baik.
Pagi ini, hari ketiga setelah aku menunggu dia untuk mengisi halaman ini, tapi kurasa dia tak sempat. Tanggung jawabnya hampir menyita waktu dan ingatannya (semoga dia tidak lupa datang dihari pernikahannya :p). Lagi-lagi kami berdua musti sabar dan sabar dan sadar. Sabar untukku agar lebih mengerti dan memahaminya. Sabar untuknya agar bisa tetep adil buat cita, cinta, dan cerita.
Dan sekarang aku ingin berterima kasih sama Tuhan, karena masih dikasih waktu bersamanya, masih bisa ngerasain sayangnya, masih bisa ngambek-ngambekkan biar kami lebih saling mengenali lagi, masih bisa belajar bareng, masih bisa berdebat biar kami tetep saling menghargai. Semoga akan lebih banyak lagi kebahagiaan2 yang Tuhan mau kasih ke kami berdua, dan orang2 yang kami sayang.
Happy (belated) Anniversary, Dear...
Diposting oleh Dendy Triadi di 08.44 0 komentar
Label: chay
Sekarang giliranku untuk menambahkan halaman ini dengan banyak huruf.
Blog ini awalnya kita bikin karena alesan yang banyak. Karena kita berdua suka nulis. Karena kita punya banyak cerita. Karena ini seperti beranda “rumah” kita berdua, dan most of all karena kita pengen someday, saat mungkin kita lagi bosen, sedih dan marah, kita bisa liat “rumah” ini, buat ingetin ke kita bahwa kita seharusnya bisa lebih bahagia.
Suatu saat nanti kita pasti bakal punya rumah beneran dengan balkon yang bisa kita pake buat cerita-cerita. Yah, idup kita bedua emang banyak ceritanya. Berawal dari cerita jaman kuliah, bergulir ke cerita-cerita saat jadi “orang-orang cubicle” dan jika Tuhan mengijinkan cerita ini akan bersambung ke atas balkon kita itu, hingga kemudian suatu hari nanti cerita akan ditutup saat kita habis usia. Mungkin saat itu tiba, blog udah jauh lebih canggih kali ya.
Cerita yang terjadi nanti dan besok emang cuma Tuhan yang punya skenarionya, makanya aku belom akan ambil pusing dengan endingnya. Yang pasti sekarang aku menikmati tiap detik hidupku dideketnya. Mensyukuri dengan sangat masih bisa saling sayang, masih bisa ngerasain perhatian dia, cara dia melindungi, caranya menenangkan aku saat aku ngambek gara2 kenakalannya (heheh, sumtime), masih bisa ngegombalin dia (hahah, cewe penggombal), dan ucapan maaf dan terimakasihnya.
Terdengar indah ya. Yah itu seperti yang aku dengar dari seseorang diluar sana yang mengira cerita yang kita punya indaaahh semua. Ketemu, saling cocok, ketawa2, solat bareng, sarapan bareng, bla..bla..bla... hey guys, idup ga semudah yang kalian liat lho. Seperti yang udah dia tulis sebelomnya, cerita ini tetep ada paitnya, tetep ada sedihnya dan ada pengorbanan didalemnya. Tapi...
Aku..
Tak menyesal...
Tak menyesali waktu 2 tahun berlalu,
karena kita kini terus berjalan melaju.
Tak menyesali tiap tetes air mata yang tertumpah,
bila diperuntukkan kepada senyum yang terkembang tanpa lelah.
Tak menyesali cerita panjang bersama sahabat hingga pagi menjelang,
karena sekarang cerita akan makin terentang.
Tak menyesali tiap doa yang teruntai,
untuk keindahan yang kini tersemai.
Tak menyesali tak terlewatinya hari tanpa menyebut namanya,
karena kini disinilah dia berada.
Jadi matahari
Untuk kini, nanti dan esok hari.
Diposting oleh Dendy Triadi di 09.42 1 komentar
Label: chay
Hai sayang, udah lama kita nggak mem-posting blog kita ini.
Dan sudah hampir 1 tahun kita menjalani hidup bersama, dari tragedi hujan malam
Hingga pelukan hangat dalam busway.hehehe
Masih banyak yang harus kita kerjakan ya chay.PR-PR yang perlu dibenahi bersama.
Tapi dari itu semua, kita masih harus sama2 ingat klo yang kita lalui ini tak lebih tak bukan karena campur tangan sebuah pengorbanan.
Pengorbanan untuk menurunkan ego disaat salah satu kita lelah, entah itu karena masalah pekerjaan atau karena masalah diri kita sendiri (apalagi klo chay lagi PMS.hehehe)
Yang jauh lebih penting adalah pengorbanan untuk selalu menjadi yang lebih baik kedepannya. Pasti ada hal-hal yang perlu kita tanggalkan, perlu kita tinggalkan walau
kadang tampak manis.
Dari pengorbanan ini kita belajar bersama bahwa betapa indahnya rasa syukur, bahwa betapa indahnya sebuah cinta kasih tanpa kata TERLALU yang penuh belenggu memiliki (Hanya Tuhan yang pantas memiliki segalanya)
Pengorbanan ini sudah dan akan terus kita lalui bersama, dari mulai menabung, dari mulai berpuasa atau lembur cuma untuk hemat.hehehe. Sampai makan sepiring berdua.
Pengorbanan ini yang akan selalu terlekat di hati. Menjunjung tapi sekaligus merendahkan ego kita masing-masing, tujuan kita hanya satu. Hanya bersatu padu.
Memimpikan duduk di teras, dengan ditemanin secangkir kopi dan segelas teh hangat sambil memandang langit penuh bintang.
Hmmm…bisa mencium aromanya chay?
Setelah saat itu kita tunaikan, dan saat itulah kita akan tertidur hangat. Saling memeluk erat dan ketika bangun kita berkaca dengan wajah kita sendiri.
“Pengorbanan bukan masalah apa dan kapan yang akan dikorbankan, bukan juga kata yang dekat dengan kematian, melainkan kata dengan hasil kenikmatan yang terbungkus proses dan ia tak tampak”
My sacrifices is yours!
Diposting oleh Dendy Triadi di 13.57 1 komentar
Setelah sekian lama berjibaku dengan mental secara lahir dan batin
akhirnya aku memutuskan untuk menyudahinya...
Memilih yang terpilih..
Sebenarnya banyak proses yang sudah dilalui bersama, dari terangnya lampu malam
sambil melihat bintang (apalagi ditambah nyanyian kita berdua di teras atas)
Fase-fase itu tampak terlihat semakin dekat, semakin membuat hati gugup dan jantung
berpacu gerilya.
terima kasih chay atas segalanya, perhatiannya dikala aku sakit dan sehat.
kejutan di hari ultah..sarapan pagi yang penuh cinta...treatment hangat di kala
aku lelah, diskusi seperti seorang sahabat dekat yang sangat akrab, pandangan tentang
keluarga yang sudah menanti di depan.
Aku akan berusaha membimbing kita menuju yang terbaik...
Luv U
Diposting oleh Dendy Triadi di 18.12 0 komentar